PULLMAN JAKARTA CENTRAL PARK MELUNCURKAN EPISODE 6 PULLMAN ARTIST PLAYGROUND

Mon, 05 Feb 2018 10:00
805
PULLMAN JAKARTA CENTRAL PARK MELUNCURKAN EPISODE 6 PULLMAN ARTIST PLAYGROUND

Pullman Hotels and Resorts memiliki komitmen yang luar biasa terhadap desain, seni, fotografi dan kebudayaan lokal, dimana Hotel berkolaborasi dengan para seniman dan desainer di seluruh dunia untuk menghidupkan visi dari desain.  Kebutuhan akan seni telah teridentifikasi, oleh karena itu, untuk memfasilitasi hal ini di properti Hotel, muncul konsep baru dari pameran seni yakni ‘Artist Playground’. Program ini dibuat sebagai inisiatif baru yang dimaksudkan untuk menambah unsur ketertarikan terhadap intrik budaya dan kecerdikan visual untuk ruang komunal yang terdapat di Hotel.

 

Pullman Jakarta Central Park dengan bangga mengumumkan bahwa konsep ini juga diterapkan di Hotel. Area Private Room yang terletak di BUNK Lobby Lounge telah dipilih dan ditentukan untuk menjadi ruang

“Pullman Jakarta Central Park Artist Playground” yang nanti nya akan terus diisi dengan berbagai macam seni dari para seniman kontemporer untuk berkontribusi seperti: pelukis, pematung, videografer, ilustrator, desainer grafis, dan banyak lagi.

 

Pada episode ke 6, Pullman Jakarta Central Park berkolaborasi dengan Can's Gallery, sebuah galeri di Jakarta yang memiliki visi untuk turut berperan dalam pertumbuhan seni rupa Indonesia, untuk memamerkan 2 lukisan karya Supar Pakis dan Catur Binaprasetyo dan 1 patung karya Putu Sutawijaya.

 

SUPAR PAKIS

Lahir di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1964, Supar adalah seorang pelukis Indonesia & lulus dari fakultas Ilmu Pendidikan dari PGRI Adibuana di Surabaya, Jawa Timur. Objek utama Supar yang terkenal adalah angsa & bola golf. Hijau adalah warna dominan di sebagian besar lukisannya.

 

Bola golf & warna hijau berhubungan dengan keharmonisan hati & emosi. Hijau menggambarkan keseimbangan antara kepala & perasaan. Angsa melambangkan semangat kerja sama yang luar biasa. Angsa memberikan contoh kerja sama dalam tim untuk mencapai lebih banyak & lebih baik dengan usaha yang lebih ringan dengan memanfaatkan hukum alam. Bukankah hal yang sama berlaku untuk manusia, yang juga merupakan bagian dari alam?

 

PUTU SUTAWIJAYA

Lahir di Tabanan, Bali, pada tahun 1970, Putu menamatkan seni rupa & lulus dari ISI - Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Jawa Tengah pada tahun 1998. Saat ini Putu tinggal & bekerja di Yogyakarta & Bali sebagai pelukis, pematung & seniman pertunjukan.

 

Putu mendemonstrasikan karakter multi-media dan cross-disciplinary seni kontemporer Indonesia. Fokus utama karyanya adalah tubuh manusia dalam bentuk ekspresif & wadah roh. Menurut Putu, 'tubuh adalah media yang dapat merasakan penderitaan, rasa sakit, kegembiraan & ketakutan.' Energi spontan lukisan-lukisan Putu diterjemahkan secara alami ke dalam seni rupa patung.

 

Konsep artistik karya Putu berasal dari pengalamannya dalam mengikuti tradisi Bali yang menekankan pada keunggulan dan kebijaksanaan dalam konteks moralitas. "Defiance" menggambarkan seorang penari Bali dengan gerakan – gerakan yang bertujuan untuk pengusiran roh-roh jahat.

 

CATUR BINAPRASETYO

Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah pada tahun 1973, Catur lulus dari ISI - Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Jawa Tengah pada tahun 2002. Setelah berpartisipasi dalam pameran kelompok di Indonesia, Thailand, Jepang, Singapura, Prancis & Belgia, Catur mendapatkan perhatian yang besar. & memenangkan berbagai penghargaan antara 1995 - 2003.

 

Sebagai seniman, Catur berkarya dengan melihat teknologi sebagai bagian dari kehidupan. Catur mengeksploitasi apa yang dilihatnya dan mengubahnya menjadi karya seni. Catur menandai sebuah fenomena di masyarakat Indonesia yang telah mengadopsi dengan antusiasme yang tinggi perkembangan teknologi dan budaya pop yang canggih sehingga menghasilkan pemandangan yang agak absurd. Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta, Catur mendapati dirinya berdiri di persimpangan antara pertanyaan yang harus ia jalani dengan kemajuan teknologi dan budaya pop sebagai bagian dari dinamika kehidupan atau haruskah ia melihatnya sebagai bunga yang menghiasi kehidupan?

 

Ke 2 lukisan dan karya seni patung dapat dinikmati mulai 10 January – 9 April 2018 pukul 07.00 – 24.00.            

PAP 1
PAP 2_1
PAP 3_1
PAP 4_1

Latest Review

Review of Asean International Hotel Medan

Posted by
on 30 Jun 2018
RADISSON MEDAN
Excellent hotel and serviceI travel regularly to Medan (about 80 days a year) and have sta...

Top Reviewer

on 30 Jun 2018
RADISSON MEDAN
Excellent hotel and serviceI travel regularly to Medan (about 80 days a year) and have sta...

Most Reviewed

ABRACO Bistro & Bar

Last reviewed by Fanny F.
on 22 Jan 2018
Good Food and View Melawai park
Good Food and View Melawai park. try chicken honey togarasi very nice. I recommend this re...