Bangkit Mandiri Bersama Pangan Lokal di Desa Mbatakapidu

Republika Online
Republika Online - Fri, 01 Nov 2013 17:15
Viewed: 367
0
Thumbs Up
Thumbs Down
Bangkit Mandiri Bersama Pangan Lokal di Desa Mbatakapidu
REPUBLIKA.CO.ID, SUMBA TIMUR, NTT -- Lima tahun silam Desa Mbatakapidu, Sumba Timur, dikenal karena sebagian besar warganya mengalami kesulitan makan. Nyaris setiap tahun sebelum 2009, ratusan warga harus mencari ubi liar di dalam hutan demi menyambung hidup di lahan yang cadas dan gersang.

Jika aktifitas itu mulai ramai dilakoni, nama desa pun menjadi terkenal hingga melintas pulau sebagai desa rawan pangan. Tapi roda kehidupan tak selamanya hanya berputar di bawah.

Ikhtiar yang tak kenal lelah ternyata mengubah segalanya. Status rawan pangan yang dulu pernah melekat, kini telah berganti menjadi desa yang tahan pangan.

Predikat baru itulah yang kemudian membawa Mbatakapidu meraih julukan sebagai desa terbaik tingkat provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dua periode berturut-turut pada 2010 dan 2011.

Tentunya, untuk dapat keluar dari sengkarut persoalan "perut" itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Tak seperti membalikkan telapak tangan maka persoalan akan segera berganti. Ada langkah sistematis yang telah dilakukan oleh desa. Caranya cukup sederhana; gerakan menanam pangan lokal di pekarangan rumah masing-masing.

Melalui peraturan desa, didoronglah kesadaran warga untuk menanam tanaman lokal di pekarangan rumahnya. Jacob Tanda, kepala desa Mbatakapidu yang baru dipilih pada 2009, menerapkan kebijakan untuk menanam 10 jenis pangan lokal per tahun bagi setiap kepala keluarga. Semuanya dilakukan secara berkelompok.

"Kalau sekarang ini sudah tidak ada lagi warga yang cari uwi (ubi hutan) ke dalam hutan," kata Jacob dengan wajah sumringah.

Gerakan untuk menanam pangan lokal di pekarangan rumah ini, kata Jacob, telah dimulai sejak 2009. Awalnya, ayah lima anak ini mengaku, butuh kesabaran ekstra untuk mengajak warga. Salah satu penyebabnya adalah kesadaran yang belum tumbuh untuk memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik.

Salah satunya adalah kebiasaan malas beraktifitas pagi. "Kalaupun sudah bangun, biasanya mereka itu sirih dan kopi-kopi di depan rumah. Baru mulai beraktifitas berkebun jam 10," jelasnya. "Padahal masyarakat di sini, 90 persennya adalah masyarakat petani."

Lantas berbekal dengan semboyan 'Lahir Miskin Itu Wajar tapi Mati Miskin Itu Tidak Wajar', Jacob mencoba melakukan perubahan kecil di desanya. Perubahan itu dilakukannya dengan membuat kesepakatan bersama warga. Kesepakatan itu dijadikannya sebagai program desa.

"Program tersebut adalah gerakan menanam tanaman di pekarangan rumah," ujarnya.

Tiga Kelompok Jenis Tanaman

Sekretaris Desa Mbatakapidu, Bimbu Wohangara, menambahkan, gerakan menanam ini dibaginya ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah jenis tanaman yang siap panen selama rentang waktu tiga bulan.

"Untuk komoditas jangka pendek ini kita meminta agar setiap rumah menanam 10 tanaman pangan lokal. Mulai dari ubi kayu, keladi, maupun ketela," jelasnya.

Lalu untuk komoditas jangka menengah adalah tanaman yang berusia antara 3-10 bulan. Untuk jenis kelompok ini, kata Bimbu, pihaknya menganjurkan agar setiap kepala keluarga menanam 50 jenis tanaman per tahun.

Di desa Mbatakapidu ini, kata dia, jumlah warganya sebanyak 357 kepala keluarga. Rata-rata keluarga memiliki hamparan pekarangan antara 10 - 25 are. "Untuk tanaman jangka menengah ini diantaranya adalah tanaman pisang," kata dia.

Jacob mengatakan, tanaman pisang ini sekarang telah menjadi primadona di desanya. Tanaman ini, kata dia, memiliki manfaat yang besar. Hampir seluruh bagian tanaman ini bisa dijual dan dimanfaatkan.

Batang pisang, digunakan sebagai pakan ternak. Lalu daunnya dijual ke pasar sebagai pembungkus nasi. Lantas jantung pisang dan buah pisang juga cukup laris pembelinya. Saat ini, kata dia, pihaknya sudah mulai bisa memproduksi secara berlebih, tak lagi untuk kebutuhan rumah tangga saja.

"Sebagian sudah bisa kita jual ke luar daerah," katanya.

Sedangkan untuk jangka panjang, Bimbu mengatakan, pihak desa membagi-bagikan bibit pohon seperti pohon mahoni, cendana, jati hingga gamelina. Untuk jangka panjang ini, ia meminta setiap warga bisa menanam sampai seribu pohon hutan dalam jangka waktu lima tahun.

"Untuk jangka panjang ini kita berharap kemiskinan yang sudah ada sejak kita lahir, tidak akan lagi menjadi warisan bagi anak cucu kita," ujarnya.

Jacob bercerita, sebelum 2009, krisis pangan yang terjadi di daerahnya lebih disebabkan pola menanam warga yang hanya mengandalkan tanaman jagung. Ketika jagung sudah dipanen sekitar bulan Maret, maka selepas itu warga tidak ada lagi menanam tanaman lain. "Tidak heran jika kemudian warga banyak mengalami kelaparan," kenangnya.

Kalaupun ada tanaman lain seperti ubi-ubian, Jacob mengatakan, umumnya tidak dirawat secara baik. Salah satu perilaku warga di desanya adalah setelah tanam jagung biasanya melepas hewan ternak di areal perkebunan. Pada saat itulah banyak tanaman umbi-umbian yang rusak karena dimakan oleh hewan ternak warga.

"Dari hasil kesepakatan yang kita buat bersama, kita kemudian memisahkan antara lahan pertanian dan ladang gembala. Jika ada hewan ternak yang masuk ke lahan pertanian maka hewan itu akan diambil oleh saya. Rupanya kesepakatan itu diikuti dan warga akhirnya bisa mengubah pola tanam mereka menjadi lebih baik," tuturnya.

Akselerasi perubahan yang dilakukan oleh Jacob itu rupanya disokong pula dengan adanya sinergi bersama pihak luar. Lewat program Desa Mandiri Pangan Desa Sejahtera, Jacob bersinergi bersama lembaga Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) membawa desanya menjauhkan diri dari status rawan pangan.

"Kami sungguh tidak menyangka karena pada 2010 rupanya sudah cukup banyak membuat perubahan. Salah satunya karena ada bantuan pendanaan dan tenaga pendampingan di desa kami. Akhirnya pada tahun itu desa kami sempat terpilih menjadi yang terbaik di NTT," kata Jacob dengan penuh bangga.
Stock & Forex
Update: 30/07/2014 03:52
Source: Yahoo
* Quotes delayed
MEDIA COVERAGE
Kompas
Detikcom
Liputan6
Tempo
OkeZone
KabarBisnis
TeknoJurnal
GoodNewsFromIndonesia
WartaKotaLive
TDWClub
IndonesiaKreatif
DailySocial
TheJakartaPost
BisnisIndonesia
Bloomberg
Reuters
CrackBerry
Yahoo
CBSMoneyWatch
MarketWatch
AFP
AboutDotCom
CentroOne
DreamersRadio